Thursday, February 26, 2009

Melawan Preman

Aku masih ingat, saat itu aku duduk di kelas dua. Aku sudah mulai aktif di OSIS. Bukan ketua apa-apa, tapi aktifis yang tak terlalu berani tampil. Dasarnya memang aku pemalu, mungkin bawaan turunan. Ya, nampaknya dari ayah yang introvert. Tapi terdorong oleh energi muda yang terus bergejolak, apapun aku ingin mencoba. Karena aktifitas itulah aku malam itu terlibat kepanitiaan takbiran Idul Fitri di Sekolah. Sejak siang aku turut berpartisipasi mempersiapkan segalanya. Beramai-ramai, ceria. Semua dilakukan dengan senang hati. Sore hari aku pulang untuk kembali malam harinya.
Aku memasuki gerbang sekolah sekitar jam delapan malam. Kudapati pintu gerbang dibuka setengah. Tak begitu jelas suara takbir yang mana yang keluar dari sekolah karena begitu ramainya suara bersahutan di udara mengumandangkan lantunan pujian yang sama. Malam itu adalah malam hari raya keagamaan, malam Idul Fitri.

Malam terasa sangat syahdu, dingin menerpa tapi itu biasa. Ketika aku masuk melewati pelataran panjang yang gelap temaram, lalu melewati ruang guru, aku melihat ada keanehan. Meski samar aku mencium adanya sosok-sosok manusia yang tak semestinya hadir di lingkungan sekolah. Apalagi dalam suasana sakral seperti ini. Ucapan kata-katanya, gerak-geriknya, jelas bukan teman-temanku. Mereka kasar dengan kata-kata kotor. Nampaknya beberapa dari mereka mabuk. Mereka kelayaban ke sana-sini dan saling terpisah satu sama lain. Ada yang berjalan di lorong-lorong sekolah, ada yang menuju arah ke luar dan entahlah serba tak jelas karena malampun cukup gelap. Setelah cukup mengamati, aku yakin kalau mereka ini adalah berandalan dari luar. Aku heran, kenapa tak ada yang melarang atau menertibkan. Aku bertanya pada salah satu teman yang hanya berdua berada di ruang sekretariat OSIS, kenapa ini dibiarkan ? Ini tak pantas, kataku. Aku tak mendapatkan jawaban.

Kulihat panitia yang lain tak ada di situ. Mungkin semua ada di aula, pikirku. Aku meminta teman yang lain untuk membujuk para pemabuk itu supaya tak berada di lingkungan sekolah. Tapi semua tidak mau, takut. Kenapa takut ?, pikirku. Kita kan banyak, sedangkan mereka cuma tiga atau empat orang saja. Mustinya kita bisa menghalaunya secara baik-baik. Tapi tak ada yang melakukan, mungkin para seniorku semua tidak mengetahui karena mereka berada di aula sedang takbiran.

Aku mengambil inisiatif mendekati salah seorang yang dekat denganku untuk tidak mabuk di lingkungan yang sedang takbiran ini. Kupilih kata-kata sebaik mungkin, sehalus mungkin, supaya tak menyingung orang itu dan menjadi marah. "Kawan, ini suasana takbiran, suasana keagamaan. Kami minta tolong, janganlah dicemari dengan mabuk di sini", kataku sambil berjalan mendampingi orang itu. Di luar dugaan, meski sudah kuperhitungkan kemungkinan itu, orang itu berbalik dan mendorongku. "Anjing ! Kamu anak baru,ya ? Dari dulu tidak ada yang berani melarang aku !", bentaknya. Aku menahan emosi, tak ada niatan untuk berkelahi. Aku mencobanya sekali lagi. " Aku minta tolong.. Aku tak melarang kalian mabuk, silakan itu hak kalian, tapi tolong jangan di lingkungan ini", kataku. "Tidak pantas, masa ada yang takbiran tapi ada yang mabuk", sambungku. "Hey, ini malam hari raya, tahu ? Aku berhak mabuk !", kata orang itu lagi semakin kasar dan menyandarkan aku ke tembok. Sekali lagi aku mencoba tenang. "Aku minta baik-baik..", ucapku dalam keterpojokan itu. Tapi apa yang terjadi, orang itu menjambak bajuku sambil menekanku ketembok dinding dan menekankan benda tajam ke leherku. Aku tak melawan, orang itu menekankan benda tajam ke leherku sambil terus berteriak mengancam dan juga memanggil-manggil temannya. Aku berfikir, apa yang harus kulakukan. Aku tidak takut tapi rada ngeri dengan pisaunya itu.

Sebelum temannya yang lain datang, aku sekalian menantangnya menuju lapang basket. " Oke, kalau tak bisa diajak baik-baik, lihat di sebelah sana ada lapangan basket. Ayo ke sana, aku akan hadapi kamu", tantangku. Untungnya preman saat itu masih menerima tantangan, tidak langsung tusuk begitu saja. Dia terus menekankan benda tajam ke leherku dan aku merasakan mulai sedikit perih. Aku giring dia secara jantan ke lapang basket. Tapi tiba-tiba beberapa orang seniorku menyamberku menarik ke aula sambil berteriak. " Agus ! Jangan !.. ". Aku di bawa ke aula. Rupanya ketika aku mulai berhadapan dengan preman itu, ada teman yang mengetahui dan lari ke aula untuk memberitahukan kepada para seniorku. Kulihat preman itu disuruh pulang oleh teman seniorku. Aku tidak puas. Akhirnya aku jadi emosi juga. Rupanya preman itu ke luar memanggil teman-temannya. Aku dinasehati kakak-kakak kelasku di luar aula bahwa mereka itu tak bisa dikontrol. Setelah pengawasan terhadapku mereda, aku kembali ke sekretariat dan menuju gerbang untuk memastikan kalau preman itu suah tak lagi di lingkungan sekolah. Ternyata mereka bertemu denganku di depan laboratorium. Salahsatunya yang tadi mengenaliku dan langsung mengepungku. Tidak banyak bicara lagi, perkelahianpun terjadi. Satu lawan empat. Ada rasa waswas berkelahi dikeremangan gelap dengan orang yang kutahu salah satunya membawa pisau. Tendangan dan pukulan kulancarkan sekenanya. Aku jaga terus jarak dengan mereka karena kuwaspadai yang membawa pisau. Beberapa menit berlangsung, ada beberapa teman yang lewat dan menemukan perkelahian itu langsung teriak melerai. Maka berlarianlah preman-preman pengecut itu.

Aku kembali ke aula dan berkumpul dengan teman-teman menceritakan kejadian. Aku tak ingat lagi siapa saja waktu itu yang ikut terlibat. Akhirnya salah seorang mengambil inisiatif memanggil Pak Madrana. Beliau adalah guru silat yang dituakan dan beruntung tinggalnya juga tak jauh dari aula. Dengan seksama beliau mendengarkan, lalu bersama beberapa senior ke luar dari lingkunagan sekolah menuju sarang para preman. Aku ditahan di aula supaya tidak ikut serta. Dan semua berjalan lancar hingga pagi menjelang. Tak ada lagi gangguan preman. Cerita teman-teman, preman itu sudah diancam oleh Pak Madrana apabila ada gangguan lagi atau besok lusa ada anak SMA10 yang diganggu maka siapa yang akan dikejar sudah diketahui.

Keesokan harinya, aku melaksanakan sholat Ied di sekolah dengan luka kecil di leher bekas tadi malam, menjadi lebih dramatis ketika obat merah mempertegas luka itu di leherku yang berkulit putih. Ketika bertemu Pak Asep, Kepala Sekolah, aku dipeluknya. Rupanya teman-teman yang mengetahui kejadian tadi malam sudah bercerita dengan Kepala Sekolah sehingga ketika aku datang, Pak Asep seolah sudah mengetahui dan memelukku. Agak terharu juga.


Jakarta, 23 Pebruari 2009

No comments: