Terpuruk
Tak perlu banyak menghafal atau berkutat dengan buku, di SMP yang kini gedungnya sudah tiada, aku selalu menjadi juara kelas yang sekaligus juara umum, karena masing-masing hanya terdiri dari satu kelas. Orang kampung menyebutnya bintang pelajar. Duh bangganya dengan julukan itu ? Meski ya, tapi di lubuk hatiku yang terdalam, terselip rasa tidak puas, tidak bangga. Aku merasa diriku ini tidak pandai, tidak pintar, dan tidak pantas menyandang juara atau bintang pelajar. Aku merasa otak ini belum ada isinya, belum ada ilmunya dan belum disuruh bekerja untuk belajar dengan keras. Tapi kenapa harus juara ? Itulah bedanya sekolah di kampung dengan di kota. Sejak SD pun aku terbiasa juara tanpa harus bersusah payah belajar. Cukup mengandalkan daya tangkap di kelas. Keluar dari kelas, main dan main. Happy dan happy, tak ada beban. Pulang sekolah kadang langsung berenang ke sungai atau bermain ke mana saja sampai lelah baru pulang. Buku kadang hanya di selip dipunggung atau ditinggal di kelas.
Tapi kebiasaan lama itu membuat aku terperangah ketika memulai masa-masa SMA. Aku tak punya dasar matematika yang kuat. Logika eksaktaku lemah karena dasarnya buruk. Aku mengahadapi kebingungan, kenapa aku tak kunjung mengerti sementara yang lain asyik-asyik saja. Tentu saja ini karena aku terbiasa dengan santai semuanya dapat. Dengan santai saja nilaiku pasti paling tinggi di kelas.Aku panik. Dan puncak kepanikanku ketika raport bayangan sebelum penjurusan nilainya sangat buruk. Matematika nilainya 5, Fisika nilainya 4 dan yang lain bergerak di 6 dan 7. Padahal aku ingin ke IPA sebagaimana ajakan teman-temanku.
Ketika rapot penjurusan diterima, kulihat bagian bawah rapot, rangkingku 18,5 dari 55 siswa. Rangking itu masih kuingat sampai saat ini. Memang aku masuk IPA tapi aku kecewa berat dengan diriku. Aku bengong dan bingung. Mana bintang pelajar itu ? Hatiku teriris dan malu sekali. Tentu saja aku tak akan berani memberitahukan kepada orangtuaku nilai yang memalukan itu. Apa yang harus kulakukan ? Aku gemetar beberapa saat. Salah tingkah dan benar-benar tak mau menerima kenyataan. Bagaimana mungkin ini terjadi ? Aku yang biasa duduk di rangking satu dengan mudah, sedangkan ini dengan susah payahpun hanya berada di rangking yang sama sekali tak bergengsi. Rangking delapan belas setengah ! Ya, 18,5. Aku tak mau orangtuaku mengetahui, tapi harus bagaimana ? Mereka pasti tahu karena aku memerlukan tandatangannya. Dan akupun mereka-reka apa yang akan kukatakan. Untungnya orangtuaku tak begitu memperdulikan dan tak mengerti. Ya, mereka memang bukan orang-orang yang pernah sekolah. Hanya sampai SR, semacam SD jaman baheula. Aku terpuruk.
Optimis
Waktu berlalu, dengan bangga namun cemas akhirnya aku duduk juga di jurusan yang katanya bergengsi, kelas I IPA1. Kumulai langkah-langkah awal dengan tekad “harus bisa ! “. Aku pasti bisa seperti orang lain. Aku tak berambisi menjadi juara kelas seperti ketika SD atau SMP. Hati kecilku sudah mengatakan, tahu dirilah kamu untuk berharap jadi juara seperti dulu. Kamu memang kalah ! Tapi aku berkeyakinan aku tidak bodoh.
Aku mulai introspeksi, aku sadar kalau aku terlalu menganggap remeh semua pelajaran. Aku terlalu terbiasa dengan tanpa serius bisa juara. Aku harus berubah dan mengubah caraku belajar. Aku yakin aku bisa. Optimis, itu kuncinya.
Aku mulai belajar dengan cara baru. Aku tak terus diam jika aku tak mengerti. Aku bertanya pada teman yang kuanggap bisa jika aku malu bertanya kepada guru. Aku melawan kemalasan mencatat dengan mencatat setiap hal penting. Aku peras otakku sampai panas sebelum aku mengerti pola dasar untuk memahami fisika, matematika dan kimia. Aku berprinsip, sebodoh-bodohnya aku, tak ingin aku tak naik kelas atau berada di rangking tengah sekalipun. Aku harus serius belajar. Ini kelas IPA dan teman-teman yang berada di dalamnya pun pasti sudah pilihan. Aku tak ingin menjadi rangking penutup. Aku malu pada diriku yang pernah disebut-sebut bintang pelajar oleh orang kampungku dulu. Akan kubuktikan ! Begitu tekadku.
Perlahan namun berjalan, dari waktu ke waktu aku merasakan ada kemajuan. Aku mulai mengerti pola fikir memahami fisika, matematika dan kimia. Lama-lama semuanya terasa menjadi ringan. Aku semakin yakin kalau aku bisa seperti teman yang lain, berani maju mengerjakan soal di papan tulis dengan penuh percaya diri. Aku selalu ingin, akulah yang duluan bisa ! Inilah kurasa mental juara yang tersisa.
Tibalah saatnya kenaikan kelas. Kecemasanku berkurang akan ketakutan tak naik kelas. Keyakinan diriku sudah tumbuh kembali untuk menerima rapot. Tidak sia-sia usahaku, kali ini rangkingku tak terlalu buruk. Aku naik ke kelas II dengan rangking tiga. Lompatan yang membanggakan bagiku. Aku semakin yakin, aku bisa terus maju bersama teman-temanku yang pintar-pintar dari kota.
Dasarnya Lemah
Kenapa aku harus belajar keras untuk mengerti IPA dan Matematika ?
Aku tak pernah mengenal matematika sejak SD. Aku hanya belajar berhitung selama di SD. Ketika orang berebut sekolah terbaik untuk masuk SMP, aku belum bisa dipastikan akan menjutkan sekolah ke SMP atau tidak. Ayahku tak menginginkan aku melanjutkan sekolah. Ayahku hanya ingin anaknya memasuki pesantren seperti yang pernah dialaminya dulu. Aku adalah kebanggaannya di antara teman-teman ayah. Ayah ingin aku lebih baik dari dirinya. Ayah tak ingin anaknya mengikuti cara orang yang tak mengenal agama. Ayah ingin aku menjadi pemuka agama, bukan menjadi orang kantoran yang di mata beliau biasanya tak begitu baik dalam beribadah. Ya, begitulah ayahku. Beliau sangat sayang dan bangga padaku.
Berbeda dengan para famili ayah dan para tetangga yang juga mengetahui kalau aku anak yang cerdas, semuanya menyarankan aku disekolahkan. Tapi ayah bersikeras aku harus ke pesantren, titik. Sebagai anak aku tak bisa berbuat apa-apa. Anak-anak zaman itu seusiaku, apalagi di kampung, bukan hanya tak punya hak prerogatif atau memilih sekalipun bahkan bicarapun tak berani. Aku hanya menunggu keputusan dengan pasrah meski kalau boleh memilih aku mau sekolah. Sementara teman-teman yang lain mengurus pendaftaran dan persiapan seleksi. Aku, kesempatan masuk tanpa testpun berlalu begitu saja dihembus waktu yang tak mau menunggu.
Masa itu, di kampungku tak banyak orang yang sekolah sampai SMP. Dihitung dengan jari sebelah tanganpun tak habis. Apa lagi yang sekolah sampai SMA, hanya ada satu orang. Ada dua orang yang saat itu duduk di kelas dua Pendidikan Guru Agama (PGA) swasta. Berarti saat itu mereka setingkat dengan kelas dua SMP karena PGA adalah sekolah enam tahun sejak tamat SD. Setelah lulus akan menjadi guru agama di sekolah dasar. Merekalah yang bercerita pada ayahku kalau sekolah di PGA mirip dengan di pesantren. Di sana belajar bahasa Arab, Ilmu Fiqih, Ilmu Hadits, Tafsir, Tajwid, Tarikh, menulis huruf Arab dan lain-lain.
Mendengar masukan dari kiri-kanan dan melihat keinginanku sekolah, ayahku pun mengizinkan aku melanjutkan sekolah ke PGA di mana kepala sekolahnya adalah orang yang disegani ayahku, seorang tokoh di kota kecil Cicalengka saat itu.
Hari-hari kulalui dengan semangat dan bangga. Indah rasanya hidup seperti orang-orang. Anak kampung yang miskin bisa sekolah. Kualitas sekolahnya seperti apa, aku tak mengerti dan tak perduli. Bagiku yang penting sekolah. Aku suka sekolah, hanya itu yang ada di dalam fikiranku yang belum dewasa.
Pelajaran demi pelajaran tak ada yang sulit kuterima, semua mudah saja. Apalagi bahasa Inggris, dalam sekejap aku langsung menjadi sorotan guru. Tak ada matematika, yang ada berhitung, ilmu alam, bahasa Indonesia dan semua pelajaran yang kusebutkan tadi.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku berkembang seperti bintang. Aku menonjol hampir di semua pelajaran padahal aku sendiri bosan, jemu, semua seolah berjalan lambat, tak menantang. Aku sangat dikenal di sekolah, disamping secara fisik mudah dikenali, prestasiku menonjol dan masuk ke dalam kelompok anak bandel. Anak yang setiap hari main basket di halaman yang terpaksa harus dibubarkan karena membuat berisik kepada kelas yang sedang belajar. Atau dihukum karena terlambat masuk setelah istirahat disebabkan main basket di lapangan yang jauh dari sekolah. Aku sering dihukum atas segala macam kenakalan tetapi aku tetap terbaik dalam pelajaran. Celakanya, segala pelanggaran yang dilakukan kolektif penyebanya adalah aku. Secara tak sadar aku menjadi pemimpin geng bandel. Suatu kondisi yang mungkin jarang terjadi, terbaik yang terbandel.
Menginjak tahun ketiga di PGA, ada sebuah keputusan pemerintah untuk mengurangi jumlah PGA menjadi hanya satu saja untuk satu kabupaten karena minimnya pengangkatan guru agama. Beberapa PGA terpaksa harus dilikuidasi, tak terkecuali sekolahku yang hanya sebuah PGA swasta. Sejak saat itu, kurikulum pelajaran harus berubah total dari kurikulum PGA menjadi kurikulum SMP. Aku yang tak pernah belajar matematika dipaksa harus mempelajari seluruh matematika SMP hanya di kelas tiga. Dan berbagai penyesuaian yang membuat sekolah kalang kabut dan seluruh anak muridnya kelabakan.Yang paling sulit adalah mengubah mind setting dari belajar ilmu-ilmu hafalan dan sangat ruhaniah menjadi belajar ilmu eksakta yang bagi kami masa itu adalah bullshit belaka. Sangat menjemukan dan sekali lagi, kami tak peduli. Apapun yang diberikan, benar atau salah cara gurunya mengajar, ditelan bulat-bulat. Ada guru yang tadinya mengajar ilmu hadits menjadi mengajar IPA karena tak ada lagi pelajaran hadits. Bisa dibayangkan betapa kacaunya. Aku yakin telah terjadi transformasi radikal di sekolahku, hanya aku belum begitu mengerti. Itulah sebabnya kenapa aku bisa ke SMA. Semua karena irodatNya. Jika Tuhan berkehendak, tak ada yang musykil terjadi.
No comments:
Post a Comment