Thursday, February 26, 2009

Masuk SMA

Kelas I SMA adalah masa orientasi yang cukup berat bagiku. Aku anak kampung yang juga kampungan. Maklum, sebelumnya aku sekolah di kampung. Namanya juga sekolah di kampung, temannya juga semuanya orang kampung. Tapi sebagiamana umumnya, orang kampung tak pernah merasa kampungan. Hanya orang kotalah yang menjulukinya. Orang kampung dikatakan kampungan karena mereka tertinggal dalam banyak hal, termasuk dalam kebobrokan moral. Supaya dikatakan kotaan, orang kampung akhirnya meniru apa yang ada di kota. Tapi cilakanya yang ditiru biasanya adalah gayanya dan kebobrokannya bukannya belajar bagaimana orang kota menjadi pandai dan bagaimana orang kota bisa maju.

Terpuruk
Tak perlu banyak menghafal atau berkutat dengan buku, di SMP yang kini gedungnya sudah tiada, aku selalu menjadi juara kelas yang sekaligus juara umum, karena masing-masing hanya terdiri dari satu kelas. Orang kampung menyebutnya bintang pelajar. Duh bangganya dengan julukan itu ? Meski ya, tapi di lubuk hatiku yang terdalam, terselip rasa tidak puas, tidak bangga. Aku merasa diriku ini tidak pandai, tidak pintar, dan tidak pantas menyandang juara atau bintang pelajar. Aku merasa otak ini belum ada isinya, belum ada ilmunya dan belum disuruh bekerja untuk belajar dengan keras. Tapi kenapa harus juara ? Itulah bedanya sekolah di kampung dengan di kota. Sejak SD pun aku terbiasa juara tanpa harus bersusah payah belajar. Cukup mengandalkan daya tangkap di kelas. Keluar dari kelas, main dan main. Happy dan happy, tak ada beban. Pulang sekolah kadang langsung berenang ke sungai atau bermain ke mana saja sampai lelah baru pulang. Buku kadang hanya di selip dipunggung atau ditinggal di kelas.
Tapi kebiasaan lama itu membuat aku terperangah ketika memulai masa-masa SMA. Aku tak punya dasar matematika yang kuat. Logika eksaktaku lemah karena dasarnya buruk. Aku mengahadapi kebingungan, kenapa aku tak kunjung mengerti sementara yang lain asyik-asyik saja. Tentu saja ini karena aku terbiasa dengan santai semuanya dapat. Dengan santai saja nilaiku pasti paling tinggi di kelas.Aku panik. Dan puncak kepanikanku ketika raport bayangan sebelum penjurusan nilainya sangat buruk. Matematika nilainya 5, Fisika nilainya 4 dan yang lain bergerak di 6 dan 7. Padahal aku ingin ke IPA sebagaimana ajakan teman-temanku.
Ketika rapot penjurusan diterima, kulihat bagian bawah rapot, rangkingku 18,5 dari 55 siswa. Rangking itu masih kuingat sampai saat ini. Memang aku masuk IPA tapi aku kecewa berat dengan diriku. Aku bengong dan bingung. Mana bintang pelajar itu ? Hatiku teriris dan malu sekali. Tentu saja aku tak akan berani memberitahukan kepada orangtuaku nilai yang memalukan itu. Apa yang harus kulakukan ? Aku gemetar beberapa saat. Salah tingkah dan benar-benar tak mau menerima kenyataan. Bagaimana mungkin ini terjadi ? Aku yang biasa duduk di rangking satu dengan mudah, sedangkan ini dengan susah payahpun hanya berada di rangking yang sama sekali tak bergengsi. Rangking delapan belas setengah ! Ya, 18,5. Aku tak mau orangtuaku mengetahui, tapi harus bagaimana ? Mereka pasti tahu karena aku memerlukan tandatangannya. Dan akupun mereka-reka apa yang akan kukatakan. Untungnya orangtuaku tak begitu memperdulikan dan tak mengerti. Ya, mereka memang bukan orang-orang yang pernah sekolah. Hanya sampai SR, semacam SD jaman baheula. Aku terpuruk.


Optimis
Waktu berlalu, dengan bangga namun cemas akhirnya aku duduk juga di jurusan yang katanya bergengsi, kelas I IPA1. Kumulai langkah-langkah awal dengan tekad “harus bisa ! “. Aku pasti bisa seperti orang lain. Aku tak berambisi menjadi juara kelas seperti ketika SD atau SMP. Hati kecilku sudah mengatakan, tahu dirilah kamu untuk berharap jadi juara seperti dulu. Kamu memang kalah ! Tapi aku berkeyakinan aku tidak bodoh.
Aku mulai introspeksi, aku sadar kalau aku terlalu menganggap remeh semua pelajaran. Aku terlalu terbiasa dengan tanpa serius bisa juara. Aku harus berubah dan mengubah caraku belajar. Aku yakin aku bisa. Optimis, itu kuncinya.
Aku mulai belajar dengan cara baru. Aku tak terus diam jika aku tak mengerti. Aku bertanya pada teman yang kuanggap bisa jika aku malu bertanya kepada guru. Aku melawan kemalasan mencatat dengan mencatat setiap hal penting. Aku peras otakku sampai panas sebelum aku mengerti pola dasar untuk memahami fisika, matematika dan kimia. Aku berprinsip, sebodoh-bodohnya aku, tak ingin aku tak naik kelas atau berada di rangking tengah sekalipun. Aku harus serius belajar. Ini kelas IPA dan teman-teman yang berada di dalamnya pun pasti sudah pilihan. Aku tak ingin menjadi rangking penutup. Aku malu pada diriku yang pernah disebut-sebut bintang pelajar oleh orang kampungku dulu. Akan kubuktikan ! Begitu tekadku.
Perlahan namun berjalan, dari waktu ke waktu aku merasakan ada kemajuan. Aku mulai mengerti pola fikir memahami fisika, matematika dan kimia. Lama-lama semuanya terasa menjadi ringan. Aku semakin yakin kalau aku bisa seperti teman yang lain, berani maju mengerjakan soal di papan tulis dengan penuh percaya diri. Aku selalu ingin, akulah yang duluan bisa ! Inilah kurasa mental juara yang tersisa.
Tibalah saatnya kenaikan kelas. Kecemasanku berkurang akan ketakutan tak naik kelas. Keyakinan diriku sudah tumbuh kembali untuk menerima rapot. Tidak sia-sia usahaku, kali ini rangkingku tak terlalu buruk. Aku naik ke kelas II dengan rangking tiga. Lompatan yang membanggakan bagiku. Aku semakin yakin, aku bisa terus maju bersama teman-temanku yang pintar-pintar dari kota.

Dasarnya Lemah
Kenapa aku harus belajar keras untuk mengerti IPA dan Matematika ?
Aku tak pernah mengenal matematika sejak SD. Aku hanya belajar berhitung selama di SD. Ketika orang berebut sekolah terbaik untuk masuk SMP, aku belum bisa dipastikan akan menjutkan sekolah ke SMP atau tidak. Ayahku tak menginginkan aku melanjutkan sekolah. Ayahku hanya ingin anaknya memasuki pesantren seperti yang pernah dialaminya dulu. Aku adalah kebanggaannya di antara teman-teman ayah. Ayah ingin aku lebih baik dari dirinya. Ayah tak ingin anaknya mengikuti cara orang yang tak mengenal agama. Ayah ingin aku menjadi pemuka agama, bukan menjadi orang kantoran yang di mata beliau biasanya tak begitu baik dalam beribadah. Ya, begitulah ayahku. Beliau sangat sayang dan bangga padaku.
Berbeda dengan para famili ayah dan para tetangga yang juga mengetahui kalau aku anak yang cerdas, semuanya menyarankan aku disekolahkan. Tapi ayah bersikeras aku harus ke pesantren, titik. Sebagai anak aku tak bisa berbuat apa-apa. Anak-anak zaman itu seusiaku, apalagi di kampung, bukan hanya tak punya hak prerogatif atau memilih sekalipun bahkan bicarapun tak berani. Aku hanya menunggu keputusan dengan pasrah meski kalau boleh memilih aku mau sekolah. Sementara teman-teman yang lain mengurus pendaftaran dan persiapan seleksi. Aku, kesempatan masuk tanpa testpun berlalu begitu saja dihembus waktu yang tak mau menunggu.
Masa itu, di kampungku tak banyak orang yang sekolah sampai SMP. Dihitung dengan jari sebelah tanganpun tak habis. Apa lagi yang sekolah sampai SMA, hanya ada satu orang. Ada dua orang yang saat itu duduk di kelas dua Pendidikan Guru Agama (PGA) swasta. Berarti saat itu mereka setingkat dengan kelas dua SMP karena PGA adalah sekolah enam tahun sejak tamat SD. Setelah lulus akan menjadi guru agama di sekolah dasar. Merekalah yang bercerita pada ayahku kalau sekolah di PGA mirip dengan di pesantren. Di sana belajar bahasa Arab, Ilmu Fiqih, Ilmu Hadits, Tafsir, Tajwid, Tarikh, menulis huruf Arab dan lain-lain.
Mendengar masukan dari kiri-kanan dan melihat keinginanku sekolah, ayahku pun mengizinkan aku melanjutkan sekolah ke PGA di mana kepala sekolahnya adalah orang yang disegani ayahku, seorang tokoh di kota kecil Cicalengka saat itu.
Hari-hari kulalui dengan semangat dan bangga. Indah rasanya hidup seperti orang-orang. Anak kampung yang miskin bisa sekolah. Kualitas sekolahnya seperti apa, aku tak mengerti dan tak perduli. Bagiku yang penting sekolah. Aku suka sekolah, hanya itu yang ada di dalam fikiranku yang belum dewasa.
Pelajaran demi pelajaran tak ada yang sulit kuterima, semua mudah saja. Apalagi bahasa Inggris, dalam sekejap aku langsung menjadi sorotan guru. Tak ada matematika, yang ada berhitung, ilmu alam, bahasa Indonesia dan semua pelajaran yang kusebutkan tadi.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku berkembang seperti bintang. Aku menonjol hampir di semua pelajaran padahal aku sendiri bosan, jemu, semua seolah berjalan lambat, tak menantang. Aku sangat dikenal di sekolah, disamping secara fisik mudah dikenali, prestasiku menonjol dan masuk ke dalam kelompok anak bandel. Anak yang setiap hari main basket di halaman yang terpaksa harus dibubarkan karena membuat berisik kepada kelas yang sedang belajar. Atau dihukum karena terlambat masuk setelah istirahat disebabkan main basket di lapangan yang jauh dari sekolah. Aku sering dihukum atas segala macam kenakalan tetapi aku tetap terbaik dalam pelajaran. Celakanya, segala pelanggaran yang dilakukan kolektif penyebanya adalah aku. Secara tak sadar aku menjadi pemimpin geng bandel. Suatu kondisi yang mungkin jarang terjadi, terbaik yang terbandel.
Menginjak tahun ketiga di PGA, ada sebuah keputusan pemerintah untuk mengurangi jumlah PGA menjadi hanya satu saja untuk satu kabupaten karena minimnya pengangkatan guru agama. Beberapa PGA terpaksa harus dilikuidasi, tak terkecuali sekolahku yang hanya sebuah PGA swasta. Sejak saat itu, kurikulum pelajaran harus berubah total dari kurikulum PGA menjadi kurikulum SMP. Aku yang tak pernah belajar matematika dipaksa harus mempelajari seluruh matematika SMP hanya di kelas tiga. Dan berbagai penyesuaian yang membuat sekolah kalang kabut dan seluruh anak muridnya kelabakan.Yang paling sulit adalah mengubah mind setting dari belajar ilmu-ilmu hafalan dan sangat ruhaniah menjadi belajar ilmu eksakta yang bagi kami masa itu adalah bullshit belaka. Sangat menjemukan dan sekali lagi, kami tak peduli. Apapun yang diberikan, benar atau salah cara gurunya mengajar, ditelan bulat-bulat. Ada guru yang tadinya mengajar ilmu hadits menjadi mengajar IPA karena tak ada lagi pelajaran hadits. Bisa dibayangkan betapa kacaunya. Aku yakin telah terjadi transformasi radikal di sekolahku, hanya aku belum begitu mengerti. Itulah sebabnya kenapa aku bisa ke SMA. Semua karena irodatNya. Jika Tuhan berkehendak, tak ada yang musykil terjadi.

Melawan Preman

Aku masih ingat, saat itu aku duduk di kelas dua. Aku sudah mulai aktif di OSIS. Bukan ketua apa-apa, tapi aktifis yang tak terlalu berani tampil. Dasarnya memang aku pemalu, mungkin bawaan turunan. Ya, nampaknya dari ayah yang introvert. Tapi terdorong oleh energi muda yang terus bergejolak, apapun aku ingin mencoba. Karena aktifitas itulah aku malam itu terlibat kepanitiaan takbiran Idul Fitri di Sekolah. Sejak siang aku turut berpartisipasi mempersiapkan segalanya. Beramai-ramai, ceria. Semua dilakukan dengan senang hati. Sore hari aku pulang untuk kembali malam harinya.
Aku memasuki gerbang sekolah sekitar jam delapan malam. Kudapati pintu gerbang dibuka setengah. Tak begitu jelas suara takbir yang mana yang keluar dari sekolah karena begitu ramainya suara bersahutan di udara mengumandangkan lantunan pujian yang sama. Malam itu adalah malam hari raya keagamaan, malam Idul Fitri.

Malam terasa sangat syahdu, dingin menerpa tapi itu biasa. Ketika aku masuk melewati pelataran panjang yang gelap temaram, lalu melewati ruang guru, aku melihat ada keanehan. Meski samar aku mencium adanya sosok-sosok manusia yang tak semestinya hadir di lingkungan sekolah. Apalagi dalam suasana sakral seperti ini. Ucapan kata-katanya, gerak-geriknya, jelas bukan teman-temanku. Mereka kasar dengan kata-kata kotor. Nampaknya beberapa dari mereka mabuk. Mereka kelayaban ke sana-sini dan saling terpisah satu sama lain. Ada yang berjalan di lorong-lorong sekolah, ada yang menuju arah ke luar dan entahlah serba tak jelas karena malampun cukup gelap. Setelah cukup mengamati, aku yakin kalau mereka ini adalah berandalan dari luar. Aku heran, kenapa tak ada yang melarang atau menertibkan. Aku bertanya pada salah satu teman yang hanya berdua berada di ruang sekretariat OSIS, kenapa ini dibiarkan ? Ini tak pantas, kataku. Aku tak mendapatkan jawaban.

Kulihat panitia yang lain tak ada di situ. Mungkin semua ada di aula, pikirku. Aku meminta teman yang lain untuk membujuk para pemabuk itu supaya tak berada di lingkungan sekolah. Tapi semua tidak mau, takut. Kenapa takut ?, pikirku. Kita kan banyak, sedangkan mereka cuma tiga atau empat orang saja. Mustinya kita bisa menghalaunya secara baik-baik. Tapi tak ada yang melakukan, mungkin para seniorku semua tidak mengetahui karena mereka berada di aula sedang takbiran.

Aku mengambil inisiatif mendekati salah seorang yang dekat denganku untuk tidak mabuk di lingkungan yang sedang takbiran ini. Kupilih kata-kata sebaik mungkin, sehalus mungkin, supaya tak menyingung orang itu dan menjadi marah. "Kawan, ini suasana takbiran, suasana keagamaan. Kami minta tolong, janganlah dicemari dengan mabuk di sini", kataku sambil berjalan mendampingi orang itu. Di luar dugaan, meski sudah kuperhitungkan kemungkinan itu, orang itu berbalik dan mendorongku. "Anjing ! Kamu anak baru,ya ? Dari dulu tidak ada yang berani melarang aku !", bentaknya. Aku menahan emosi, tak ada niatan untuk berkelahi. Aku mencobanya sekali lagi. " Aku minta tolong.. Aku tak melarang kalian mabuk, silakan itu hak kalian, tapi tolong jangan di lingkungan ini", kataku. "Tidak pantas, masa ada yang takbiran tapi ada yang mabuk", sambungku. "Hey, ini malam hari raya, tahu ? Aku berhak mabuk !", kata orang itu lagi semakin kasar dan menyandarkan aku ke tembok. Sekali lagi aku mencoba tenang. "Aku minta baik-baik..", ucapku dalam keterpojokan itu. Tapi apa yang terjadi, orang itu menjambak bajuku sambil menekanku ketembok dinding dan menekankan benda tajam ke leherku. Aku tak melawan, orang itu menekankan benda tajam ke leherku sambil terus berteriak mengancam dan juga memanggil-manggil temannya. Aku berfikir, apa yang harus kulakukan. Aku tidak takut tapi rada ngeri dengan pisaunya itu.

Sebelum temannya yang lain datang, aku sekalian menantangnya menuju lapang basket. " Oke, kalau tak bisa diajak baik-baik, lihat di sebelah sana ada lapangan basket. Ayo ke sana, aku akan hadapi kamu", tantangku. Untungnya preman saat itu masih menerima tantangan, tidak langsung tusuk begitu saja. Dia terus menekankan benda tajam ke leherku dan aku merasakan mulai sedikit perih. Aku giring dia secara jantan ke lapang basket. Tapi tiba-tiba beberapa orang seniorku menyamberku menarik ke aula sambil berteriak. " Agus ! Jangan !.. ". Aku di bawa ke aula. Rupanya ketika aku mulai berhadapan dengan preman itu, ada teman yang mengetahui dan lari ke aula untuk memberitahukan kepada para seniorku. Kulihat preman itu disuruh pulang oleh teman seniorku. Aku tidak puas. Akhirnya aku jadi emosi juga. Rupanya preman itu ke luar memanggil teman-temannya. Aku dinasehati kakak-kakak kelasku di luar aula bahwa mereka itu tak bisa dikontrol. Setelah pengawasan terhadapku mereda, aku kembali ke sekretariat dan menuju gerbang untuk memastikan kalau preman itu suah tak lagi di lingkungan sekolah. Ternyata mereka bertemu denganku di depan laboratorium. Salahsatunya yang tadi mengenaliku dan langsung mengepungku. Tidak banyak bicara lagi, perkelahianpun terjadi. Satu lawan empat. Ada rasa waswas berkelahi dikeremangan gelap dengan orang yang kutahu salah satunya membawa pisau. Tendangan dan pukulan kulancarkan sekenanya. Aku jaga terus jarak dengan mereka karena kuwaspadai yang membawa pisau. Beberapa menit berlangsung, ada beberapa teman yang lewat dan menemukan perkelahian itu langsung teriak melerai. Maka berlarianlah preman-preman pengecut itu.

Aku kembali ke aula dan berkumpul dengan teman-teman menceritakan kejadian. Aku tak ingat lagi siapa saja waktu itu yang ikut terlibat. Akhirnya salah seorang mengambil inisiatif memanggil Pak Madrana. Beliau adalah guru silat yang dituakan dan beruntung tinggalnya juga tak jauh dari aula. Dengan seksama beliau mendengarkan, lalu bersama beberapa senior ke luar dari lingkunagan sekolah menuju sarang para preman. Aku ditahan di aula supaya tidak ikut serta. Dan semua berjalan lancar hingga pagi menjelang. Tak ada lagi gangguan preman. Cerita teman-teman, preman itu sudah diancam oleh Pak Madrana apabila ada gangguan lagi atau besok lusa ada anak SMA10 yang diganggu maka siapa yang akan dikejar sudah diketahui.

Keesokan harinya, aku melaksanakan sholat Ied di sekolah dengan luka kecil di leher bekas tadi malam, menjadi lebih dramatis ketika obat merah mempertegas luka itu di leherku yang berkulit putih. Ketika bertemu Pak Asep, Kepala Sekolah, aku dipeluknya. Rupanya teman-teman yang mengetahui kejadian tadi malam sudah bercerita dengan Kepala Sekolah sehingga ketika aku datang, Pak Asep seolah sudah mengetahui dan memelukku. Agak terharu juga.


Jakarta, 23 Pebruari 2009

Sebait Puisi Untuk Istriku

Ketika aku mengenalnya,aku tertantang untuk mendapatkan hatinya.
Kuminta pada Tuhan agar dia menjadi milikku dengan ridhoNya
"Tuhan, aku menyukainya. Jika Engkau ridho, canangkanlah dia untukku.
Jika dia baik bagiku, izinkanlah kujadikan teman hidupku"
Sepotong do'a yang menjadi damba dalam hidupku.
Singkat, tapi itulah sebuah permintaan seorang hamba.
Jujur dan tulus.
Sejak itu, hari-hariku dipenuhi bayangannya, siang dan malam.
Ada harap ada cemas.
Hatinya bisa saja kuraih, tapi ridhoNya aku cemaskan.
Aku sadar, baik menurutku, belum tentu baik untukku menurutNya.
Hari-hari terus berlalu sejak aku mengenalnya.
Kubulatkan hatiku untuk memilihnya karena Tuhan telah memantapkan hatiku padanya.

Kini, duapuluh tahun sudah kulalui hidup bersamanya.
Suka dan duka, nestapa dan bahagia
Dia telah menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku.
Sebuah damba telah menjadi nyata.
Nikmat telah diberikanNya, indah telah dihiaskanNya.
Kini aku bertanya,
"Tuhan, cukupkah syukurku padaMu ?
Telahkah tertebus nikmatMu dengan pengabdianku ?
Kuyakin aku tak mampu.
Tuhan, jangan tinggalkan aku
Seburuk apapun aku, akan tetap kembali ke jalanMu
Dari waktu ke waktu.

Jakarta, 26 Pebruari 2009

Thursday, February 12, 2009

Mahalnya Sebuah Karir Wanita


Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir, namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih, maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal dunia karena overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam perawatan intensif di sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.
Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah, pembantu kami.Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.
Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak begitu hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa Bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.
Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggalkan kami.
Maya begitu cemas dengan sakitnya Bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu), Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.
Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih.Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu lelah untuk memikirkan urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja. Ketika hari Senin tiba, saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.
Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhentibekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya.
Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya. Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.
Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi.Meski sebenarnya suami saya juga seorangyang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti semula, urusan kantor dan karir fokus saya.Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.
Sampai akhirnya semua terjadi dan di luar kendali saya dan semua berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat inis selalu terngiang di telinga.Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.
Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.
Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya. Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya, menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka ke dunia. Tragis !
Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren.
Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama.
Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya.
Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.
Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah,siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..........Ya Tuhan, Maya kangen banget sama bik Inah" . Bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ? Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali,seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.
Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real, kenyataan yang terjadi.
Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun, tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya. Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya. Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya.
Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.
Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua. Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni. Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu".
Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

Alamat pengirim ada pada redaksi.

Tuesday, February 10, 2009

Janji Alloh : Yahudi Akan Terbantai Habis


Melihat kepongahannya di muka bumi dan kekejamannya terhadap Palestina, membuat kebencian banyak orang memuncak kepada Yahudi. Namun apa daya, makhluk itu dilindungi banyak kekuatan dunia dan teknologi mereka pun sangat maju.

Tapi jangan khawatir, Alloh subhanahu wa ta'ala tak akan melanggengkan kecongkakan di muka bumi. Inilah janji Alloh SwT dalam firmanNya :

Janji I :“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS 17: 4-5).

Janji I Allah sudah terlaksana dan si Penghukum Sadis ini sudah menyiksa kaum Yahudi, bahkan bukan hanya di kampung halaman mereka sendiri, tapi hingga ke seluruh pelosok dunia. Adolf Hitler
Janji II :“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (QS. 17: 6)Janji inipun sudah terlaksana. Karena tak berapa lama setelah si Penghukum Sadis ini berhasil mereka kalahkan, bangsa Israel pun akhirnya diizinkan oleh Tuhan untuk menang dan bangkit. Dan setelah hampir dua setengah milenium bangsa Israel tidak memiliki negara dan hidup luntang-lantung, kini bangsa Israel sudah memiliki negara, kekuatan, harta, dan pendukung dari kalangan Jewish-Christian dan Jewish-Moslem.
Setelah kehancuran Nazi, David Ben Gurion memproklamirkan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948. Di samping itu, saat ini kaum Zionis (baik keturunan biologis Israel maupun bukan) telah menguasai hampir seluruh aspek kehidupan manusia di seluruh dunia, dari penguasaan mereka terhadap media, perbankan dan keuangan, militer, perdagangan, teknologi dan lain sebagainya. Saat Ini Adalah Kesempatan Terakhir Israel Untuk Bertaubat: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. 17:7). Saat ini adalah momen dan kesempatan yang Allah berikan kepada bangsa Israel untuk bertaubat dan kembali ke Jalan Tuhan. Pilihan itu sudah Allah Swt berikan. Seandainya dengan kekuatan dan kekuasaan yang Allah berikan saat ini kepada mereka itu digunakan untuk berbuat kebaikan kepada sesama manusia, maka mereka sendirilah yang akan menikmati hasil kebaikannya. Namun jika karunia itu mereka salahgunakan dengan–sekali lagi–membuat kerusakan di muka bumi, maka Janji Allah yang kedua pasti akan terlaksana. Dalam Al-Qur’an Allah sudah mengisyaratkan bahwa bangsa ini tidak akan berbuat kebaikan, dan bahkan sebaliknya mereka akan semakin menyombongkan diri dan membuat kerusakan di muka bumi sehingga pada akhirnya akan terlaksanalah janji Allah Swt yang kedua. Akan Terlaksananya Janji Allah Yang Kedua Sebentar Lagi: “Apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. 17:7). Apabila sudah matang/genapnya kejahatan Israel yang kedua dengan membuat berbagai kerusakan di muka bumi ini, maka Allah Swt berjanji akan membangkitkan suatu bangsa yang pada masa lalu, juga pernah mengalahkan dan memperbudak bangsa Israel, yaitu bangsa Persia. Jadi jangan heran kalau saat ini Israel sudah kebakaran jenggot dengan kemajuan bangsa Iran! Iran adalah satu-satunya negara Islam yang membuat nyali Israel surut.
"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. 61:4)"Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang." (QS. 37:173).
Melihat dari nubuat-nubuat yang ada, sangat mungkin beberapa tahun lagi (barangkali sekitar 3 tahun lagi–atau sekitar tahun 2012 atau mungkin juga lebih cepat. Wallahu’alam) akan terjadi perang terbuka antara Iran dan Israel bersama sekutunya. Dan selama masa-masa ini, berbagai fitnah akan terjadi di berbagai pelosok dunia, karena masa penderitaan bagi umat Muslim sedang berjalan. Marilah kita seluruh umat Islam, perbanyaklah solat, berzikir, berdoa, bertawasul, dan pegang erat-eratlah Al-Qur’an kalau tidak mau binasa.