Ada seorang pemuda yang telah dikirim menjadi prajurit dalam sebuah peperangan. Setelah sekian lama bertempur di medan perang, akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelum kembali ke kampung halamannya, pemuda itu menelpon terlebih dahulu kedua orang tuanya.
“Ibu, Ayah... Aku sedang menuju pulang. Tapi, sebelum sampai, aku ingin menanyakan dulu satu hal. Aku punya seorang teman yang ingin kubawa pulang bersamaku. Bolehkan ? “
“Tentu..”, jawab kedua orang tua sang pemuda.
“Tapi, ada satu hal yang harus Ibu dan Ayah ketahui...”, lanjut sang pemuda, “Temanku ini sedang terluka akibat perang. Ia kehilangan satu tangan dan satu kakinya. Ia tak tahu ke mana harus pulang, dan aku ingin dia tinggal bersama kita”.
“Oh, kasihan sekali..”, ujar kedua orang tuanya. “Mungkin kita bisa mencarikannya suatu tempat untuk tinggal”.
“Tidak, Ibu, Ayah... Aku ingin dia tinggal bersama kita”.
“Anakku..”, ujar sang Ayah. “Kamu tak tahu apa yang sedang kamu minta. Seseorang yang cacat akan menjadi beban untuk kita. Kita punya kehidupan sendiri, dan sesuatu seperti ini tidak bisa mencampuri kehidupan kita. Menurut Ayah, sebaiknya kamu pulang saja dan lupakan temanmu itu. Ia pasti akan menemukan sendiri cara untu hidup”.Sang pemuda terdiam beberapa saat, lalu ia menutup gagang teleponnya.
Beberapa hari kemudian, Ayah dan Ibu pemuda itu mendapat kabar dari kepolisian. Seorang pemuda telah bunuh diri dan menurut identitas yang ada, pemuda itu adalah putra mereka. Dengan sedih kedua orang tua itu menuju tempat kejadian. Mereka berharap kabar itu salah alamat. Saat mereka tiba di ruang jenazah, ternyata benar. Mereka yakin bahwa jenazah itu adalah anaknya. Namun, yang membuat mereka terkejut adalah jenazah itu hanya memiliki satu tangan dan satu kaki. Oh, betapa teririsnya hati kedua orang tua itu. Hancur sehancur-hancurnya.
Sahabatku, berapa banyak kata cinta terucap dalam sehari ? Betapa sering kata cinta kita baca, kita dengar. Di sinetron, di koran, di majalah, di buku-buku bahkan di tempat umum. Berapa banyak orang yang kita kenal yang gampang mengatakan cinta ? Ayah kita, ibu kita, saudara-saudara kita, pasangan kita, anak-anak kita, sahabat kita. Semua pernah bilang cinta kepada kita, baik itu terkatakan maupun tersirat dalam sikap. Bukankah cinta tak perlu berwujud bunga ? Bahkan mungkin kita sendiri termasuk orang yang mudah mengatakan cinta. Tapi, tahukah kita apa makna hakiki cinta itu ?.....
Mudah saja seorang pria bilang cinta pada gadis cantik yang menawan. Mudah saja seorang wanita bilang cinta pada seorang pria mapan nan rupawan. Mudah saja seorang ibu bialng cinta kepada anaknya yang lucu menggemaskan. Mudah saja seorang guru bilang cinta kepada seorang muridnya yang rajin dan pandai. Mudah saja seorang bos bilang cinta pada anak buahnya yang produktif dan kreatif.
Tetapi sahabatku, mudahkah kita bilang cinta kepada orang yang tidak secantik atau setampan seperti yang kita inginkan ? Apakah seorang pria masih akan cinta kepada si wanita jiga sudah tak lagi cantik dan menyenangkan ? Apakah seorang istri masih akan tetap mencintai suaminya yang sudah tak lagi punya pekerjaan karena di PHK ? Apakah seorang suami masih akan cinta pada istrinya yang sudah tak muda lagi dan sakit-sakitan ? Apakah seorang ibu masih akan cinta jika anaknya tak lagi manis dan taat ? Apakah seorang guru masih kan cinta kepada muridnya yang bodoh dan membangkang ?
Sahabatku, sering kita hanya mau mencintai dan hidup dengan orang-orang yang sempurna di mata kita, cantik, tampan, pintar, sehat, menyenangkan. Akan tetapi kita tidak senang hidup bersama orang-orang yang membuat kita merasa tak nyaman. Kita tidak mau dekat-dekat dengan orang yang membuat kita kesal, repot, risih, takut, malu dan rugi karena orang-orang semacam itu hanya akan merusak zona kenyamanan dan mengusik suasana hati kita.
Seperti kisah pemuda prajurit di atas, si pemuda sudah bisa mengukur sedalam apa cinta yang dimiliki sepasang orang tuanya. Mereka hanya mau mencintai dan menerima jika 'teman' putera mereka tak bakal merepotkan. Tak sadar bahwa sang 'teman' adalah putera mereka sendiri. Kedua orang tua itu tidak mencintai dengan tulus, melainkan dengan syarat. Mereka telah gagal dalam ujian keikhlasan.
Sahabatku, how deep is your love ? ....
Mari kita renungi lagi cinta kita di usia yang sudah condong ke senja hari ini.
Sahabatku, tak ada sukses yang tak melewati ujian. Bukan sukses namanya kalau dilalui tanpa cobaan. Cobaan tak hanya datang dalam bentuk fisik yang mengharuskan kita berjuang, berkorban waktu, tenaga, harta dan fikiran. Tapi cobaan juga kadang menguji hati dan mental kita. Punyakah kita cinta yang tanpa pamrih ketika segala sesuatunya di luar harapan ? Ketika kita gagal, atau ketika orang terdekat gagal sehingga menghambat kita menuju sukses ?
Di dalam sebuah tayangan televisi, seorang ayah telah kehilangan banyak, harta dan nama baiknya gara-gara kedua anaknya kecanduan narkoba. Sebagai ayah yang sibuk bekerja, sebenarnya dia tak perlu repot-repot, dia tinggal lempar saja anaknya ke panti rehabilitasi dan semuanya akan beres. Namun sang ayah mencintai kedua anaknya. tak perduli mereka telah menggadaikan hampir semua hartanya dan mencoreng nama baiknya. Ia memilih berjuang mendidik sendiri sampai pulih dan kembali normal meski membutuhkan waktu yang sangat panjang. Pria itu seorang ayah yang sukses.
Dalam sebuah tayangan lain yang menghebohkan. Seorang suami terkejut ketika mendapati istrinya telah membunuh ketiga anak mereka. Dan setelah diperiksa, sang istri dinyatakan positif menderita gangguan jiwa. Sang suami bukannya meninggalkannya atau menceraikannya, malah mendampingi istrinya dalam proses pengadilan dan perawatan di rumah sakit jiwa. Luar biasa.
Dan kawanku, ketika ditanya mengapa ia tetap setia kepada perempuan yang telah nyata-nyata telah membunuh ketiga anaknya, pria itu menjawab, “Karena saya mencintai istri saya dan saya percaya inilah cara saya mendapatkan cinta dari Sang Pencipta”.
Bayangkan, ketika di negeri kita banyak pria berselingkuh, mengkhianati istrinya yang setia, seperti yang ditangkan acara Termehek-mehek minggu lalu, pria ini malah setia kepada istrinya yang sudah jelas psikopat akut. Dia seorang pria yang sukses menjadi suami.
Siapapun kita, profesi apapun kita, bekerja di manapun, bisnis apapun, untuk sukses, 'cinta tanpa syarat' adalah suatu modal utama.
Sebagai orang tua, sukses kita terletak pada sejauh mana kita bisa membuat anak-anak bahagia dan tentu saja sholeh/sholihah. Banyak orang tua yang memanjakan anaknya sehingga anak mereka sulit menjadi anak dengan pribadi yang matang dan dewasa. memanjakan bukan wujud cinta tetapi sikap yang akan menjerumuskan kepada penderitaan. Banyak juga orang tua yang menyakiti anaknya, baik dengan sikap maupun kata-kata kasar, dan bilang bahwa 'itulah wujud cinta orang tua'. Padahal sesuatu yang menyakiti bukanlah cinta. Ya nggak ? Kita sukses menjadi orang tua jika anak-anak bisa disiplin tetapi tetap merasa bahagia.
Orang tua yang baik bukan seperti ibunya Malin Kundang – mencap anak 'durhaka' dan mengutuknya. Orang tua yang baik adalah yang mencintai anaknya dengan tulus, tanpa pamrih, meskipun dia cacat. Kalaupun anaknya durhaka, orang tua bukannya menyakiti tetapi menasihati, mendoakan dan tawakal kepada Alloh. Dan jangan lupa, introspeksi diri, apa yang salah dengan cara mendidik selama ini.
Kita termasuk orang tua yang sukses jika mampu memberikan kasih sayang tanpa syarat. Baik buruk seorang anak tetap dicintai. Shaleh atau jahat, seorang anak tetap diarahkan ke jalan yang positif. Kita bisa disebut orang tua yang sukses apabila dengan cinta kita anak-anak menjadi orang yang sukses, baik dalam hal materi, akhlak maupun batin.
Sebagai pimpinan sebuah bisnis atau perusahaan, sukses tidak hanya terletak kepada seberapa besar kemajuan usaha didapat dari hasil kerja keras kita. Tetapi juga seberapa besar kita berhasil membuat para karyawan produktif dan bahagia. Bos yang baik adalah yang memberi cinta tanpa syarat, baik kepada pekerjaannya maupun kepada karyawannya. Seberapa beratpun tuntutan pekerjaan, ia tetap mencintai dan melaksanakannya dengan baik.
Siapapun kita, di manapun kita berada, untuk sukses tak perlu menghafal segudang teori. Cukup dengan menjadi manusia penuh cinta. Cinta tanpa syarat. Kalau menjadi guru, jadilah guru yang memotifasi, bukan menghakimi. Kalau menjadi karyawan, jadilah inspirasi bukan memprovokasi. Kalau menjadi anak, jadilah anak yang berbakti, bukan merecoki.
Jadilah orang yang sukses dengan mengedepankan ketulusan hati. Niatkanlah segalanya sebagai ibadah kepada Alloh subhanahu wa ta'ala dan biarkanlah hanya Alloh yang menilai.
Mari kita beruha menjadi manusia yang penuh cinta dan semoga kita berhasil.
Semoga Alloh selalu meridhoi kita. Amin.
“Ibu, Ayah... Aku sedang menuju pulang. Tapi, sebelum sampai, aku ingin menanyakan dulu satu hal. Aku punya seorang teman yang ingin kubawa pulang bersamaku. Bolehkan ? “
“Tentu..”, jawab kedua orang tua sang pemuda.
“Tapi, ada satu hal yang harus Ibu dan Ayah ketahui...”, lanjut sang pemuda, “Temanku ini sedang terluka akibat perang. Ia kehilangan satu tangan dan satu kakinya. Ia tak tahu ke mana harus pulang, dan aku ingin dia tinggal bersama kita”.
“Oh, kasihan sekali..”, ujar kedua orang tuanya. “Mungkin kita bisa mencarikannya suatu tempat untuk tinggal”.
“Tidak, Ibu, Ayah... Aku ingin dia tinggal bersama kita”.
“Anakku..”, ujar sang Ayah. “Kamu tak tahu apa yang sedang kamu minta. Seseorang yang cacat akan menjadi beban untuk kita. Kita punya kehidupan sendiri, dan sesuatu seperti ini tidak bisa mencampuri kehidupan kita. Menurut Ayah, sebaiknya kamu pulang saja dan lupakan temanmu itu. Ia pasti akan menemukan sendiri cara untu hidup”.Sang pemuda terdiam beberapa saat, lalu ia menutup gagang teleponnya.
Beberapa hari kemudian, Ayah dan Ibu pemuda itu mendapat kabar dari kepolisian. Seorang pemuda telah bunuh diri dan menurut identitas yang ada, pemuda itu adalah putra mereka. Dengan sedih kedua orang tua itu menuju tempat kejadian. Mereka berharap kabar itu salah alamat. Saat mereka tiba di ruang jenazah, ternyata benar. Mereka yakin bahwa jenazah itu adalah anaknya. Namun, yang membuat mereka terkejut adalah jenazah itu hanya memiliki satu tangan dan satu kaki. Oh, betapa teririsnya hati kedua orang tua itu. Hancur sehancur-hancurnya.
Sahabatku, berapa banyak kata cinta terucap dalam sehari ? Betapa sering kata cinta kita baca, kita dengar. Di sinetron, di koran, di majalah, di buku-buku bahkan di tempat umum. Berapa banyak orang yang kita kenal yang gampang mengatakan cinta ? Ayah kita, ibu kita, saudara-saudara kita, pasangan kita, anak-anak kita, sahabat kita. Semua pernah bilang cinta kepada kita, baik itu terkatakan maupun tersirat dalam sikap. Bukankah cinta tak perlu berwujud bunga ? Bahkan mungkin kita sendiri termasuk orang yang mudah mengatakan cinta. Tapi, tahukah kita apa makna hakiki cinta itu ?.....
Mudah saja seorang pria bilang cinta pada gadis cantik yang menawan. Mudah saja seorang wanita bilang cinta pada seorang pria mapan nan rupawan. Mudah saja seorang ibu bialng cinta kepada anaknya yang lucu menggemaskan. Mudah saja seorang guru bilang cinta kepada seorang muridnya yang rajin dan pandai. Mudah saja seorang bos bilang cinta pada anak buahnya yang produktif dan kreatif.
Tetapi sahabatku, mudahkah kita bilang cinta kepada orang yang tidak secantik atau setampan seperti yang kita inginkan ? Apakah seorang pria masih akan cinta kepada si wanita jiga sudah tak lagi cantik dan menyenangkan ? Apakah seorang istri masih akan tetap mencintai suaminya yang sudah tak lagi punya pekerjaan karena di PHK ? Apakah seorang suami masih akan cinta pada istrinya yang sudah tak muda lagi dan sakit-sakitan ? Apakah seorang ibu masih akan cinta jika anaknya tak lagi manis dan taat ? Apakah seorang guru masih kan cinta kepada muridnya yang bodoh dan membangkang ?
Sahabatku, sering kita hanya mau mencintai dan hidup dengan orang-orang yang sempurna di mata kita, cantik, tampan, pintar, sehat, menyenangkan. Akan tetapi kita tidak senang hidup bersama orang-orang yang membuat kita merasa tak nyaman. Kita tidak mau dekat-dekat dengan orang yang membuat kita kesal, repot, risih, takut, malu dan rugi karena orang-orang semacam itu hanya akan merusak zona kenyamanan dan mengusik suasana hati kita.
Seperti kisah pemuda prajurit di atas, si pemuda sudah bisa mengukur sedalam apa cinta yang dimiliki sepasang orang tuanya. Mereka hanya mau mencintai dan menerima jika 'teman' putera mereka tak bakal merepotkan. Tak sadar bahwa sang 'teman' adalah putera mereka sendiri. Kedua orang tua itu tidak mencintai dengan tulus, melainkan dengan syarat. Mereka telah gagal dalam ujian keikhlasan.
Sahabatku, how deep is your love ? ....
Mari kita renungi lagi cinta kita di usia yang sudah condong ke senja hari ini.
Sahabatku, tak ada sukses yang tak melewati ujian. Bukan sukses namanya kalau dilalui tanpa cobaan. Cobaan tak hanya datang dalam bentuk fisik yang mengharuskan kita berjuang, berkorban waktu, tenaga, harta dan fikiran. Tapi cobaan juga kadang menguji hati dan mental kita. Punyakah kita cinta yang tanpa pamrih ketika segala sesuatunya di luar harapan ? Ketika kita gagal, atau ketika orang terdekat gagal sehingga menghambat kita menuju sukses ?
Di dalam sebuah tayangan televisi, seorang ayah telah kehilangan banyak, harta dan nama baiknya gara-gara kedua anaknya kecanduan narkoba. Sebagai ayah yang sibuk bekerja, sebenarnya dia tak perlu repot-repot, dia tinggal lempar saja anaknya ke panti rehabilitasi dan semuanya akan beres. Namun sang ayah mencintai kedua anaknya. tak perduli mereka telah menggadaikan hampir semua hartanya dan mencoreng nama baiknya. Ia memilih berjuang mendidik sendiri sampai pulih dan kembali normal meski membutuhkan waktu yang sangat panjang. Pria itu seorang ayah yang sukses.
Dalam sebuah tayangan lain yang menghebohkan. Seorang suami terkejut ketika mendapati istrinya telah membunuh ketiga anak mereka. Dan setelah diperiksa, sang istri dinyatakan positif menderita gangguan jiwa. Sang suami bukannya meninggalkannya atau menceraikannya, malah mendampingi istrinya dalam proses pengadilan dan perawatan di rumah sakit jiwa. Luar biasa.
Dan kawanku, ketika ditanya mengapa ia tetap setia kepada perempuan yang telah nyata-nyata telah membunuh ketiga anaknya, pria itu menjawab, “Karena saya mencintai istri saya dan saya percaya inilah cara saya mendapatkan cinta dari Sang Pencipta”.
Bayangkan, ketika di negeri kita banyak pria berselingkuh, mengkhianati istrinya yang setia, seperti yang ditangkan acara Termehek-mehek minggu lalu, pria ini malah setia kepada istrinya yang sudah jelas psikopat akut. Dia seorang pria yang sukses menjadi suami.
Siapapun kita, profesi apapun kita, bekerja di manapun, bisnis apapun, untuk sukses, 'cinta tanpa syarat' adalah suatu modal utama.
Sebagai orang tua, sukses kita terletak pada sejauh mana kita bisa membuat anak-anak bahagia dan tentu saja sholeh/sholihah. Banyak orang tua yang memanjakan anaknya sehingga anak mereka sulit menjadi anak dengan pribadi yang matang dan dewasa. memanjakan bukan wujud cinta tetapi sikap yang akan menjerumuskan kepada penderitaan. Banyak juga orang tua yang menyakiti anaknya, baik dengan sikap maupun kata-kata kasar, dan bilang bahwa 'itulah wujud cinta orang tua'. Padahal sesuatu yang menyakiti bukanlah cinta. Ya nggak ? Kita sukses menjadi orang tua jika anak-anak bisa disiplin tetapi tetap merasa bahagia.
Orang tua yang baik bukan seperti ibunya Malin Kundang – mencap anak 'durhaka' dan mengutuknya. Orang tua yang baik adalah yang mencintai anaknya dengan tulus, tanpa pamrih, meskipun dia cacat. Kalaupun anaknya durhaka, orang tua bukannya menyakiti tetapi menasihati, mendoakan dan tawakal kepada Alloh. Dan jangan lupa, introspeksi diri, apa yang salah dengan cara mendidik selama ini.
Kita termasuk orang tua yang sukses jika mampu memberikan kasih sayang tanpa syarat. Baik buruk seorang anak tetap dicintai. Shaleh atau jahat, seorang anak tetap diarahkan ke jalan yang positif. Kita bisa disebut orang tua yang sukses apabila dengan cinta kita anak-anak menjadi orang yang sukses, baik dalam hal materi, akhlak maupun batin.
Sebagai pimpinan sebuah bisnis atau perusahaan, sukses tidak hanya terletak kepada seberapa besar kemajuan usaha didapat dari hasil kerja keras kita. Tetapi juga seberapa besar kita berhasil membuat para karyawan produktif dan bahagia. Bos yang baik adalah yang memberi cinta tanpa syarat, baik kepada pekerjaannya maupun kepada karyawannya. Seberapa beratpun tuntutan pekerjaan, ia tetap mencintai dan melaksanakannya dengan baik.
Siapapun kita, di manapun kita berada, untuk sukses tak perlu menghafal segudang teori. Cukup dengan menjadi manusia penuh cinta. Cinta tanpa syarat. Kalau menjadi guru, jadilah guru yang memotifasi, bukan menghakimi. Kalau menjadi karyawan, jadilah inspirasi bukan memprovokasi. Kalau menjadi anak, jadilah anak yang berbakti, bukan merecoki.
Jadilah orang yang sukses dengan mengedepankan ketulusan hati. Niatkanlah segalanya sebagai ibadah kepada Alloh subhanahu wa ta'ala dan biarkanlah hanya Alloh yang menilai.
Mari kita beruha menjadi manusia yang penuh cinta dan semoga kita berhasil.
Semoga Alloh selalu meridhoi kita. Amin.